Senin, 15 Oktober 2012

Harga Timbangan

Pernyataan Wilson Adami, terpidana mati kasus narkoba yang menyatakan dengan setor tiga milyar maka hukuman mati pun akan sirna menimbulkan tanda tanya besar bagi sebagian kalangan. Mungkin termasuk Anda yang bisa sampai terkaget-kaget mendengarnya, atau mungkin Anda malah mencibir sinis sambil mengatakan, “Ah, biasa itu”.

Wilson Adami adalah seorang warga negara Nigeria yang tertangkap kembali di RSUD Cilacap setelah adanya dugaan Adami juga melakukan praktik perdagangan narkoba dari dalam lapas Nusakambangan.
Bukan tanpa alasan Adami kembali melakukan praktik perdagangan narkoba jenis sabu dari balik jeruji penjara. Karena dia sedang mengusahakan dana untuk dapat membebaskan dirinya dari jeratan hukuman mati.
“Kalau Rp 1 miliar turun menjadi SH (seumur hidup), kalau Rp 3 miliar bisa turun 20 (tahun). Ada harganya,” cetus Adami.
Apa yang dikatakan oleh Adami itu bisa benar bisa tidak. Tapi itulah yang dia dengar dari napi lain bahwa peringanan hukuman mati masih dapat diusahakan dengan cara seperti itu. Sementara itu memang untuk mengetahui praktik jual beli keringanan hukuman mati kasus narkoba tidaklah mudah. BNN sendiri juga sedang menelusuri masalah ini. Hal itu juga dikatakan oleh Ketua Gerakan Anti-Narkoba (Granat), Henry Yosodiningrat.
“Sindikat ini memiliki dana tak terbatas, maka sulit bagi kami dalam penanganan kasus ini untuk mengatakan tidak ada suap,” ucap Henry.
Tanda tanya BESAR
Banyak orang kemudian bertanya-tanya, apakah pernyataan Adami ada hubungannya dengan putusan MA yang membatalkan hukuman mati pemilik pabrik narkoba asal Surabaya, Hanky Gunawan. Hanky yang ditangkap pada bulan Mei 2006 lalu, sekarang hanya dihukum 15 tahun penjara oleh majelis hakim yang diketuai oleh Imron Anwari.

MA sendiri bersikukuh putusan perubahan hukuman bagi terpidana mati narkoba sudah final. Alasan hakim, hukuman mati itu bertentangan dengan pasal 28 ayat 1 UUD 1945 dan melanggar Pasal 4 UU No. 39/1999 tentang HAM. Juru Bicara MA Djoko Sarwoko mengaku tidak tahumenahu atas terjadinya jual beli pengurangan hukuman mati itu. Ia menyerahkan kepada masyarakat untuk menilai atas munculnya isu miring dalam putusan MA itu.
“Saya hanya membuka fakta, seperti itu keadaannya (putusan MA). Bahwa ada macam-macam, saya tidak tahu itu,” Djoko beralasan.
Lhah.. ternyata MA sendiri seperti sudah tidak bisa diganggu gugat. Apa yang menjadi pertanyaan masyarakat hanya ditanggapi dengan nada sekenanya oleh MA. Bukankah ini menjadi sangat berbahaya terhadap kredibilitas MA sebagai lembaga yudikatif?

MA membiarkan masyarakat memberikan penilaian terhadap isu miring putusan MA tersebut. HAM menjadi alasan utama pembatalan hukuman mati Hanky tersebut.

Pasal 4 UU No. 39/1999 tentang HAM
Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun.

Kita lihat sekarang penilaian masyarakat terhadap isu miring putusan MA tersebut. Saya ambil satu saja yang mungkin sudah cukup mewakili masyarakat anti-narkoba. Disampaikan oleh Hidayat Nur Wahid.
“Keputusan yang melukai rasa keadilan publik, karena jelas sekali narkoba salah satu dari kejahatan yang luar biasa yang tidak kalah seram dan bahanya dari korupsi dan terorisme. Makin hari tidak makin reda tapi semakin merajalela. Lihat saja sebagai buktinya banyak penangkapan pengedaran narkoba dan penggerebekan,” ujar ketua FPKS DPR RI, Hidayat Nur Wahid, kepada detikcom, Minggu (7/10/2012).
“Benar kita harus menghormati HAM, tapi dalam UUD kita HAM itu bukan sesuatu yang harus mengabaikan HAM orang lain. Ada HAM yang lebih besar yang harus dihormati yaitu HAM jutaan generasi bangsa. Seharusnya HAM yang lebih besar ini yang harus didahulukan daripada HAM satu dua orang,” jelasnya.
Umpama

Seandainya perkataan Adami itu benar, butuh 3 milyar untuk membeli putusan pembatalan hukuman mati, haruskah diadakan lelang seperti di pegadaian untuk mengambil keputusan batal tidaknya hukuman mati? Saya membayangkannya seperti itu. Yang berani membayar lebih mahal dari 3 milyar bisa membatalkan putusan miring MA tadi.

Luar biasa.

Tapi mari kita tetap berpikiran positif terhadap apa yang menjadi putusan MA tersebut. Jangan sampai kita menjadi berprasangka buruk, dan menuduh yang tidak-tidak tanpa bukti yang jelas. Tapi kalau itu semua (prasangka buruk)  tidak bisa dihindari, terserah Anda. Saya hanya mengajak dan menghimbau, bukan memutuskan.

Lalu berapa sebenarnya harga sebuah vonis mati di pasar timbangan?

sumber:
1. Majalah Detik Edisi 45, hal 32-37. Download disini.
2. DetikNews - PKS: MA Seharusnya Kukuhkan Hukuman Mati Terpidana Kasus Narkoba
3. UU No. 39/1999
4. Pasal 28 UUD 1945

Kisah Sedih

Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis yang bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita kisah seorang gadis yang bernama Muha. Kisah ini diriwayatkan oleh zaman, diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.

Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya? Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.

Muha tumbuh besar seiring dengan penyakit yang dideritanya. Ia menjadi seorang remaja yang cantik dan mempunyai akhlak mulia serta taat beragama. Meski dalam kondisi sakit namun ia tetap berusaha untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran dari mata air ilmu yang tak pernah habis. Walau terkadang bahkan sering penyakit kronisnya kambuh yang memaksanya berbaring di tempat tidur selama berhari-hari.

Selang beberapa waktu atas kehendak Allah seorang pemuda tampan datang meminang, walaupun ia sudah mendengar mengenai penyakitnya yang kronis itu. Namun semua itu sedikit pun tidak mengurangi kecantikan, agama dan akhlaknya…kecuali kesehatan, meskipun kesehatan adalah satu hal yang sangat penting. Tetapi mengapa?

Bukankah ia juga berhak untuk menikah dan melahirkan anak-anak yang akan mengisi dan menyemarakkan kehidupannya sebagaimana layaknya wanita lain?

Demikianlah hari berganti hari bulan berganti bulan si pemuda memberikan bantuan materi agar si gadis meneruskan pengobatannya di salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Terlebih lagi dorongan moril yang selalu ia berikan.

Hari berganti dengan cepat, tibalah saatnya persiapan pesta pernikahan dan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Beberapa hari sebelum pesta pernikahan, calonnya pergi untuk menanyakan pengerjaan gaun pengantin yang masih berada di tempat si penjahit. Gaun tersebut masih tergantung di depan toko penjahit. Gaun tersebut mengandung makna kecantikan dan kelembutan. Tiada seorang pun yang tahu bagaimana perasaan Muha bila melihat gaun tersebut.

Pastilah hatinya berkepak bagaikan burung yang mengepakkan sayap putihnya mendekap langit dan memeluk ufuk nan luas. Ia pasti sangat bahagia bukan karena gaun itu, tetapi karena beberapa hari lagi ia akan memasuki hari yang terindah di dalam kehidupannya. Ia akan merasa ada ketenangan jiwa, kehidupan mulai tertawa untuknya dan ia melihat adanya kecerahan dalam kehidupan.

Bila gaun yang indah itu dipakai Muha, pasti akan membuat penampilannya laksana putri salju yang cantik jelita. Kecantikannya yang alami menjadikan diri semakin elok, anggun dan menawan.

Walau gaun tersebut terlihat indah, namun masih di perlukan sedikit perbaikan. Oleh karena itu gaun itu masih ditinggal di tempat si penjahit. Sang calon berniat akan mengambilnya besok. Si penjahit meminta keringanan dan berjanji akan menyelesaikannya tiga hari lagi. Tiga hari berlalu begitu cepat dan tibalah saatnya hari pernikahan, hari yang di nanti-nanti. Hari itu Muha bangun lebih cepat dan sebenarnya malam itu ia tidak tidur. Kegembiraan membuat matanya tak terpejam. Yaitu saat malam pengantin bersama seorang pemuda yang terbaik akhlaknya.

Si pemuda menelepon calon pengantinnya, Muha memberitahukan bahwa setengah jam lagi ia akan pergi ke tempat penjahit untuk mengambil gaun tersebut agar ia dapat mencobanya dan lebih meyakinkan bahwa gaun itu pantas untuknya. Pemuda itu pergi ke tempat penjahit dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi terdorong perasaan bahagia dan gembira akan acara tersebut yang merupakan peristiwa terpenting dan paling berharga bagi dirinya, demikian juga halnya bagi diri Muha.

Karena meluncur dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut keluar dari badan jalan dan terbalik berkali-kali. Setelah itu mobil ambulans datang dan melarikannya ke rumah sakit. Namun kehendak Allah berada di atas segalanya, beberapa saat kemudian si pemuda pun meninggal dunia. Sementara telepon si penjahit berdering menanyakan tentang pemuda itu. Si penjahit mengabarkan bahwa sampai sekarang ia belum juga sampai ke rumah padahal sudah sangat terlambat.

Akhirnyai penjahit itu tiba di rumah calon pengantin wanita. Sekali pun begitu, pihak keluarga tidak mempermasalahkan sebab keterlambatannya membawa gaun itu. Mereka malah memintanya agar memberitahu si pemuda bahwa sakit Muha tiba-tiba kambuh dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Kali ini sakitnya tidak memberi Muha banyak kesempatan. Tadinya sakit tersebut seakan masih berbelas kasih kepadanya, tidak ingin Muha merasa sakit. Sekarang rasa sakit itu benar-benar membuat derita dan kesengsaraan yang melebihi penderitaan yang ia rasakan sepanjang hidupnya yang pendek.

Beberapa menit kemudian datang berita kematian si pemuda di rumah sakit dan setelah itu datang pula berita meninggalnya sang calon pengantinnya, Muha.

Demikian kesedihan yang menimpa dua remaja, bunga-bunga telah layu dan mati, burung-burung berkicau sedih dan duka terhadap mereka. Malam yang diangan-angankan akan menjadi paling indah dan berkesan itu, berubah menjadi malam kesedihan dan ratapan, malam pupusnya kegembiraan.

Kini gaun pengantin itu masih tergantung di depan toko penjahit. Tiada yang memakai dan selamanya tidak akan ada yang memakainya. Seakan gaun itu bercerita tentang kisah sedih Muha. Setiap yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya, siapa pemiliknya.?

Sumber: Serial Kisah Teladan, Muhammad bin Shalih al-Qahthani, seperti dinukilnya dari Mausu’ah al-Qishshash al-Waqi’iyyah

Sepakbola Api Indonesia Dikagumi Media Inggris

"Pemain Premier League akan kesulitan jika bermain di Indonesia." 

Permainan sepakbola api yang biasa dimainkan di pondok pesantren di Indonesia dikagumi media-media Inggris. The Sun, Daily Mail, Mirror dan Huffington Post ramai-ramai memberitakan permainan tersebut.

Permainan sepakbola api adalah hal yang lumrah di Indonesia, terutama di pondok-pondok pesantren saat melakukan perayaan, khususnya bulan Ramadan. Namun, bagi media-media Inggris, permainan sepakbola api adalah hal yang menakjubkan.

Empat media Inggris The Sun, Daily Mail, Mirror, serta Huffington Post menulis artikel mengenai sepakbola api di pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Media Inggris memuji kemampuan santri-santri dalam memainkan sepakbola api selama 60 menit tanpa mengalami luka bakar.

"Pemain top kita akan mengalami kesulitan jika mereka memainkan sepakbola di Indonesia. Mereka memainkan sepakbola 60 menit, bermain telanjang kaki menggunakan kelapa terbakar yang sebelumnya direndam dengan minyak tanah selama dua hari," tulis Daily Mail.

Sedangkan The Sun menulis, "Premier League melahirkan sejumlah pemain terpanas di dunia, tapi mereka tidak ada apa-apanya dibanding pesepakbola ini."

Dalam video di The Sun, pertandingan sepakbola api itu dilakukan saat ulang tahun pondok pesantren Lirboyo. "Kami menggunakan ramuan herbal tradisional, garam dan sirih, untuk menghilangkan panas yang ada di kaki," ujar Ali Akhyar yang merupakan panitia permainan di pesantren Lirboyo.

Uztads Selebritis

Ustadz yang sudah dikenal oleh banyak peselancar dunia maya maupun nyata, Ustadz Ahmad Sarwat, Senin 21/11/2011 menuliskan status di laman Facebooknya. Ia mengkritisi para ustadz yang tampil di televisi dan jauh dari nilai dan prinsip seorang ustadz yang berdakwah. Ia menyebutkan “12 Perbedaan Ustadz Yang Artis dan Ustadz Beneran”:

    1. Artis butuh manager, tapi ustadz butuh perpustakaan.
    2. Artis lewat manager minta bayaran tinggi dan pakai tarif, tapi ustadz lebih sering dibayar dengan ucapan “syukran”.
    3. Artis tampil sesuai selera dan permintaan pasar, tapi ustadz menyampaikan risalah langit.
    4. Artis tidak belajar ilmu agama, tapi ustadz wajib nyantri dan kuliah bertahun-tahun.
    5. Artis haus popularitas, tapi ustadz haus ilmu dan hidayah.
    6. Artis hidup akrab dengan dusta, gosip dan kepalsuan, ustadz akrab dengan kewaraan, kesederhaan dan kerendahan hati.
    7. Artis mengumpulkan penonton yang membeludak, ustadz mendidik dan melahirkan calon ulama.
    8. Artis butuh yel-yel, kostum, joget, nyanyi dan akting, ustadz mengajar lewat hati.
    9. Artis ceramah biar orang tertawa menangis dan menghibur, ustadz mengajarkan ilmu agar Allah turunkan hidayah.
    10. Artis butuh media, TV dan wartawan khususnya infoteinmen, tapi ustadz butuh majelis ilmu, kitab dan perpustakaan.
    11. Artis sering jadi bintang iklan, tapi ustadz lebih suka bicara kebenaran.
    12. Artis dikerumuni sesama artis dan fans, sementara ustadz dikerumuni orang-orang yang ingin mengaji dan mensucikan diri.


Ustadz Ahmad Sarwat ‎menjelaskan bahwa seorang ustadz yang belajar agama itu bukan sekadar mengaji satu dua kali saja.

“Yang dimaksud dengan belajar agama itu bukan sekedar pernah nyantri atau ngaji atau sekedar dengerin ceramah doang, tetapi maksudnya harus menguasai ilmu aqidah, ulumul-quran dan ulumul hadits, ilmu tafsir, qiraat, ilmu hadits, kritik hadits (naqd), ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih, perbandingan mazhab, fatwa ulama klasik dan kontemporer. Dan yang paling dasar adalah ilmu bahasa Arab yang maha luas itu, mencakup ilmu balaghah, manthiq, bayan, adab, dan tentunya juga nahwu dan sharaf, dan seterusnya, dan seterusnya.. Butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar ilmu agama.”

Kemudian beliau menceritakan keprihatinannya atas tarif yang dipatok oleh para ustadz artis tersebut. Bahkan beliau mengalaminya sendiri.

“Ramadhan kemarin ada panitia ceramah yang ngaku terus terang ke saya bahwa seharusnya yang diundang bukan saya, tapi ustadz X. Tapi gagal gak jadi diundang lantaran pihak manager gak mau turun lagi TARIF-nya dari angka 30 juta untuk ceramah 15 menit menjelang buka puasa. Akhirnya yang diundang saya yang bisa dikasih “syukron” doang,” terangnya.

Kemudian beliau menyebutkan salah satu solusi atas kurangnya ustadz yang benar-benar ustadz.

“Sebenarnya kita punya banyak calon ulama di masa mendatang, sayang mereka kurang digarap dengan baik. Misalnya yang paling mudah, kita punya 3000-5000 mahasiswa di Mesir dan sekitarnya. Sayangnya, tidak semua ingin jadi ulama. Sebagiannya lebih suka kerja di bidang-bidang yang tidak ada kaitannya dengan keulamaan. Ada yang jual madu, jasa bekam, travel haji umrah, atau jadi tukang ruqyah, politisi, dan seterusnya, dan seterusnya…”

“Ya tidak ada yang melarang sih, semua boleh-boleh aja sih. Tapi di zaman kita lagi sangat krisis ulama, mestinya yang udah diberi kesempatan belajar sampai ke Al-Azhar bisa rada mikir dikit lah. Mereka kuliah itu kan dbiayai waqaf umat Islam, kok sepulangnya ke Indo malah kagak jelas arahnya? Afwan buat adik-adik mahasiswa di Mesir, bukannya nyindir, tapi memang nuduh sih..,” sindirnya sambil tersenyum

Source : fimadani